Beranda | Artikel
Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah
Jumat, 22 Oktober 2021

Bersama Pemateri :
Ustadz Abdullah Taslim

Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Kamis, 15 Rabi’ul Awal 1443 H / 21 Oktober 2021 M.

Ceramah Agama Islam Tentang Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah

Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:

Tiga puluh empat, kelezatan yang dirasakan oleh orang yang kaya dengan harta selalu berkaitan dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Meskipun misalnya tidak ada orang lain kecuali yang paling dekat saja, para pembantunya, pelayannya, istri-istrinya, tawanan budak-budaknya ataupun pengikut-pengikutnya. Karena meskipun dia memiliki harta sebanyak apapun kalau tidak ada yang melayani dia hampir tidak ada artinya harta tersebut. Meskipun dia kaya tetap dia butuh orang yang melayaninya.

Orang yang kaya dengan harta, seandainya dia sendirian menikmati hartanya tanpa ada pelayan, atau istri atau tanpa ada seorang pun dari kalangan manusia, maka dia tidak akan sempurna mengambil manfaat dan menikmati hartanya.

Dan dikarenakan sempurnanya kelezatan dengan kekayaan harta ini tergantung dari bagaimana dia membutuhkan yang lainnya, maka hubungan dengan orang lain ini menjadi sebab timbulnya berbagai macam gangguan dan kesusahan pada dirinya. Karena ketika sudah berhubungan dengan orang pasti dia akan berusaha mencari sebab untuk membuat orang suka kepadanya padahal tidak mungkin akan dicapai hal tersebut.

Di sini Ibnul Qayyim ingin menegaskan bahwasanya kekayaan dengan harta itu tidak akan bisa kita rasakan dengan sempurna. Tetap kita harus membutuhkan yang lain, tidak bisa dia berdiri sendiri. Maka orang ini akan mendapatkan cobaan dengan keberadaan orang-orang yang mau tidak mau dia butuh. Akan terjadi yang namanya kebencian atau permusuhan antara dia dengan mereka. Karena menjadikan semua manusia ridha kepadanya adalah perkara yang mustahil untuk dicapai.

Dengan dia mencari keridhaan sebagian dan membuat marah yang lainnya, ini adalah sebab keburukan dan permusuhan. Yang mana semakin lama kita bergaul dengan manusia, maka akan semakin menambah sebab-sebab keburukan dan permusuhan, bahkan menguatkannya.

Pergaulan yang lama-kelamaan justru banyak keburukan ini hanyalah terjadi dari sisi kekayaan dengan harta. Karena kalau  seandainya orang yang punya harta ini tidak punya jasa atau kebaikan kepada mereka, justru mereka akan menjauhi, tidak mau bergaul dan tidak mau dekat dengannya.

Sementara keburukan ini tidak terdapat pada kekayaan dengan ilmu. Karena orang yang kaya dengan ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada manusia, maka manusia akan menghormatinya, menghargai dia dengan dengan ilmunya, akan berusaha untuk menunaikan dan menjaga hak-haknya.

Tiga puluh lima, orang tidak menunju kepada harta untuk langsung dinikmati pada dzatnya. Karena dzat harta itu sendiri tidak bisa mendatangkan manfaat sama sekali. Akan tetapi harta itu ditujukan untuk bisa membeli fasilitas-fasilitas atau makanan-makanan yang kita butuhkan. Karena harta itu sendiri merupakan sarana atau jalan untuk meraih tujuan-tujuan kita. Dan sudah diketahui bahwasanya tujuan-tujuan itu lebih mulia dibandingkan sarana. Padahal tujuan itu -meskipun lebih mulia dibandingkan harta- adalah kurang dan rendah karena masih berhubungan dengan urusan-urusan dunia.

Kebanyakan dari orang-orang yang berakal mengatakan bahwa sesungguhnya tujuan yang ingin dicapai dengan harta yang kita belanjakan tadi sebenarnya tidak ada hakekatnya. Dia tidak lain hanya sekedar menghilangkan rasa sakit saja. Misalnya memakai pakaian, tidak lain manfaatnya adalah menolak gangguan dari panas, dingin, atau hembusan angin kencang. Padahal sudah diketahui ketika kita mengusahakan untuk mendapatkan hal ini, kita juga merasakan rasa sakit dan keburukan. Akan tetapi rasa sakit dan keburukan yang kita rasakan lebih sedikit dibandingkan rasa sakit ketika kita menolak sakitnya hal tersebut. Maka dengan ini manusia pada hakekatnya menanggung yang paling ringan dari dua keburukan dalam rangka menolak keburukan yang lebih besar.

Sebagian dari orang-orang ahli hikmah ditanya ketika dia ingin meminum segelas obat yang rasanya sangat pahit. Maka dia mengatakan: “Saya sekarang merasakan tinggal di rumah yang penuh dengan penderitaan, tapi mau tidak mau saya lakukan karena saya menolak keburukan dengan keburukan yang lain.”

Berbeda kekayaan dengan ilmu; kelezatannya berkesinambungan, kegembiraannya selalu berlanjut, membawa kita kepada berbagai macam kesenangan dan kegembiraannya, tidak pernah hilang, tidak menjadikan kita sedih, dan tidak pernah meninggalkan kita sehingga menderita.

Orang-orang yang merasakan kelezatan dengan ilmu adalah sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an:

لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Tidak ada ketakutan bagi mereka dan  tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus[10]: 62)

Tiga puluh enam, kekayaan dengan harta menjadikan seorang hamba membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena orang yang memiliki harta disebabkan kecintaannya yang sangat terhadap hartanya, akhirnya dia tidak suka berpisah dengan hartanya, dia ingin terus hidup agar bisa menikmati hartanya sebagaimana kenyataan membuktikan hal ini. Salah seorang di antara mereka menginginkan kalau dipanjangkan umurnya sampai 1000 tahun karena kecintaannya terhadap dunia. Padahal dengan dipanjangkan umurnya pun tidak menjauhkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun ilmu akan menjadikan seorang hamba mencintai perjumpaan dengan Allah dan Allah pun akan mencintai perjumpaan dengannya. Ini menjadikan seorang hamba zuhud dalam kehidupan dunia yang tidak kekal dan penuh dengan penderitaan ini.

Tiga puluh tujuh, penyebutan nama orang yang kaya dengan harta akan mati seiring dengan matinya mereka. Sedangkan orang-orang yang berilmu, ketika mereka sudah wafat pun penyebutan mereka selalu hidup. Tetap kita nukilkan ucapannya sehingga mereka tetap mendapatkan pahala meskipun sudah wafat. Juga tetap kita doakan mereka dengan kebaikan.

Sebagaimana ucapan Ali bin Abi Thalib:

مات خزَّان الأموال وهم أحياء، والعلماء باقون ما بقي الدهر

“Orang yang menimbun harta telah mati (dicaci) meskipun sedang hidup di dunia. Sedangkan orang yang berilmu senantiasa hidup (selalu disebut dan didoakan) selama masa ini masih ada.”

Maka para pemilik harta meskipun mereka hidup tapi seperti orang yang mati. Sedangkan para ulama, memang mereka mati tapi keadaan mereka seperti orang yang masih hidup dan disebut namanya dengan kebaikan oleh manusia.

Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/50918-harta-menjadikan-hamba-membenci-perjumpaan-dengan-allah/